Pekan lalu saya tidak sengaja menabrak (menyundul) mobil di depan mobil saya.

Ini kedua kalinya saya menyundul (nabrak pelan) mobil di depan mobil saya di tahun 2024 ini, dan keempat kalinya sepanjang riwayat 20 tahun pengalaman mengemudi.

Dan keempatnya bukan karena saya sengaja teledor misal karena mbalesi chat di hape.

Nabrak pertama 20 tahun lalu ketika masih belajar nyetir di jalan raya Surabaya yang macet, dan belum bisa memperkirakan jarak aman, berujung nyundul angkot. Pelan sih, tapi karena bemper angkot full dempul ya jadi pecah, sedangkan mobil yg saya bawa bempernya besi dan cuma tergores catnya.

Nabrak kedua pas jalan pelan (default kecepatan tanpa gas mobil matic) depan warung tetangga ngintip stok elpiji. Taunya dari depan ada mobil APV yg baru belok gang. Ciuman bemper kami.

Nabrak ketiga (di tahun ini) pas macet merayap. Pandangan saya cuma beralih 1-2 detik ke hape untuk Re-Center map. Tau2 nyenggol mobil LCGC.

Nabrak terakhir kemarin pas macet merayap tanpa ngegas (default kecepatan mobil matic tanpa injak gas) di kemacetan sore Surabaya Barat, saya ngintip ke kolong 1-2 detik nyari kartu tol. Tiba2 sudah nabrak Innova.

Saya sangat bersyukur Allah mengingatkan saya untuk berhati2 lewat insiden2 minor. Empat kejadian nabrak itu nabraknya pelan, pengemudi kendaraan yang saya tabrak semuanya kooperatif ga ada yang konflik apalagi sampe baku hantam, dan ganti rugi masih bisa dijangkau.

Ga kebayang kalo yang saya tabrak itu Rolls Royce atau McLaren, atau pengemudinya minta ganti rugi di atas batas wajar karena berdalih kehilangan produktivitas, misalnya. Atau misalnya nabrak dengan kecepatan tinggi sampai ada luka fisik.

Sebelumnya saya masih sering lihat hape sambil menyetir mobil meski untuk aktivitas tidak penting, misal baca chat, baca artikel, bales chat.

Tapi sejak tabrakan pekan lalu, saya rasa ini peringatan agak keras bagi saya untuk tidak lagi melakukan hal yang sembrono.

Kadang kita memang perlu diberi peringatan sebagai momentum untuk mengubah kebiasaan.

Dulu setelah lulus SMA saya pernah kecelakaan ketika mengendarai sepeda motor kecepatan tinggi, tabrakan dengan bus berlawanan arah meski alhamdulillah tidak sampai head to head. Motor saya jatuh keras ke samping. Waktu itu saya mengenakan helm teropong (ada penutup area mulut), jaket tebal (ada lapisan busa), tetapi pakai sandal biasa. Helm saya baret2 dalam. Jaket sobek di beberapa bagian sampai lapisan busa. Melihat itu saya bersyukur membayangkan andai tidak pakai helm dan jaket tebal mungkin kepala dan badan saya luka sampai dalam. Hanya ada luka di kaki di bagian yang tidak terlindungi sandal.

Sejak itu saya menyadari pentingnya kelengkapan keselamatan ketika berkendara. Helm, jaket, pelindung dada, safety belt, airbag, dll.

Dan sejak pekan kemarin saya menyadari pentingnya konsentrasi penuh ketika berkendara. Saya mulai berhenti main hape ketika nyetir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *